Perintis PCM Jatinom

Sosok Perintis Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jatinom

Pada kurun masa 1950 – 1965 masyarakat di Kecamatan Jatinom, Klaten mengenal beberapa sosok menonjol di bidang perekonomian dan keagamaan. Mereka di kemudian hari dikenal sebagai sosok perintis atau pelopor yang berperanan besar dalam menciptakan kondisi perekonomian dan amalan keagamaan serta akhirnya berpartisipasi aktif dalam membangun persyarikatan Muhammadiyah Jatinom.

Generasi muda Muhammadiyah Jatinom saat ini menempatkan mereka sebagai tipe ideal sosok pelopor atau perintis tumbuh dan berkembangnya persyarikatan tersebut di Jatinom. Sosok perintis yang membuka jalan bagi berdirinya Muhammadiyah di Jatinom adalah Mulyono alias Jayeng, Harjo Suwiryo, H. Ghozali, Anwar, H Soleh, H Abdullah, dan lainnya.

Mulyono

Mulyono alias Jayeng sudah mempunyai andil besar dalam kepemimpinan informal di Jatinom. Pada 1949 misalnya, Mulyono sudah disegani banyak pihak, mulai dari elit politisi berikut kader Partai Nasionalis Indonesia (PNI) maupun birokrat di daerah, seperti camat hingga wedana (pembantu bupati) berlindung kepada Mulyono. Saat itu Mulyono belum masuk dinas militer di Batalyon 426. Ia masih aktif di Hizbul Wathan. Lalu, ia aktif bergerilya dan akhirnya masuk TNI. Mulyono memang dikenal tidak takut kepada siapa pun dan masalah apa pun akan dihadapinya. Orang awam menjulukinya, Jayeng, yang berkonotasi seseorang yang memang memiliki keahlian beladiri dan ilmu kebal senjata. Karena itu, pada saat gerombolan MMC kabur ke lereng Merapi, Mulyono alias Jayeng dan kawan-kawannya di Batalyon 426 tidak segan-segan melakukan penyergapan.

Situasi sosial politik tahun 1960

Pada era 1950 hingga pertengahan 1960-an situasi sosial politik di wilayah Kabupaten Klaten masih penuh gejolak. Kebetulan wilayah Klaten notabene merupakan bagian dari penyangga kawasan lereng Gunung Merapi, terutama di sisi selatan dan tenggara lereng gunung berapi itu. Selain itu, sebagian dari Kabupaten Boyolali, Eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah di sisi timur dan timur laut lereng Merapi. Kemudian juga, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di sisi utara dan barat laut lereng Merapi serta Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada sisi barat daya dan selatan lereng gunung paling aktif berketinggian 2.930 meter di atas permukaan laut (dpl).

Khusus kawasan lereng Merapi, terutama di wilayah Klaten bagian utara pada saat itu menjadi tempat pelarian pelaku pemberontakan PKI di Madiun 1948, yang dikenal sebagai Peristiwa Madiun 1948. Pelarian pelaku Peristiwa Madiun 1948 kemudian dikenal sebagai Merapi Merbabu Complex (MMC). Persembunyian mereka sebagian besar berada di lereng Merapi, terutama wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pada perkembangannya, tidak hanya MMC yang memilih daerah Klaten sebagai basis pelarian dan pertahanan terakhir. Sejumlah eks anggota Batalyon (Yon) 426 TNI yang desersi juga memilih menetap di Klaten untuk berlindung dan bertahan dari kejaran pimpinan dan anggota TNI. Mereka desersi lantaran menolak tugas atasan Kolonel Gatot Subroto selaku Panglima Daerah Militer yang memerintahkan mereka melumpuhkan gerakan makar oleh kelompok yang memproklamasikan berdirinya negara berasas Islam, yakni Darul Islam dengan kesatuan militernya bernama Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Karto Soewiryo di Jawa Barat dan berkembang hingga Sulawesi. Selanjutnya, di Jatinom, Klaten, mereka tidak hanya berhadapan dengan MMC, melainkan juga dengan sejumlah anggota Batalyon (Yon) TNI lainnya yang berideologi komunis.

Desersi

Salah seorang anggota Yon 426 yang melakukan desersi adalah Kapten Mulyono. Mulyono yang juga dikenal dengan nama panggilan Jayeng adalah ayah kandung H. Chusnul Hadi. Mulyono yang pernah menempuh studi jurusan ilmu hukum di… akhirnya memilih dropout, tidak sampai lulus karena memilih dinas ketentaraan dan berperang melawan Jepang. Mulyono wafat pada 1951, dalam sebuah operasi penangkapan terhadap sejumlah anggota Yon 426 yang melakukan desersi.

Kapten Mulyono dan kawan-kawannya yang diburu pasukan TNI sebenarnya tidak yang termasuk terlibat dalam organisasi DI/TII. Namun, karena mereka menolak penugasan dari Gatot Subroto agar memberantas dan menangkap anggota Yon 423 dan 426 yang terlibat dalam gerakan dan organisasi DI/TII di Sulawesi, maka akhirnya mereka diburu dan ditangkap pasukan TNI. Mulyono dan kawan-kawannya menolak perintah petinggi militer yang dijabat Panglima Tentara Teritorial IV Diponegoro Kolonel Gatot Subroto. Mereka menolak perintah dengan cara melakukan gerakan desersi dan melarikan diri ke arah Kudus, Magelang, Muntilan, dan berakhir di Klaten.

Operasi penangkapan terhadap anggota Yon 426 yang desersi dan membelot dimulai pada 8 Desember 1951 dengan pengepungan di Kudus, Jawa Tengah. Operasi tersebut diberi nama Operasi Merdeka Timur dan berdampak pada sebagian pasukan Yon 426 di Klaten. Mereka juga dikenai aksi sweeping senjata oleh pasukan TNI.

Pengejaran oleh TNI

H. Chusnul Hadi mengilustrasikan, dalam pengejaran yang dilakukan oleh serdadu TNI, Kapten Mulyono melewati lereng Merapi, masuk ke Karangnongko, dan Ngupit. Di Desa Ngupit, Kecamatan Jatinom itu tempat terakhir yang dapat dijangkau Mulyono. Aksi pelariannya terhenti seteIah tubuhnya diterjang peluru. Sebelumnya, selama dalam pengejaran, Mulyono dan si pengejar sebenarnya tidak bermusuhan. Mereka justru saling berangkulan pada saat bertemu dan saling memberitahu adanya penjagaan oleh tentara di titik-titik tertentu.

Sementara itu, tentara penembak Mulyono juga masih teman seperguruan. Bahkan, setelah menembak Mulyono, si penembak merangkul tubuh Mulyono yang terluka parah menjelang ajal sembari berucap penuh sesal, “Piye, Mas?”

“Ya, wispiye. Aku titip jam kanggo anakku…” ucap Mulyono sebelum ajal menjemputnya.

Di akhir hayatnya Mulyono mewariskan sebuah arloji untuk H. Chusnul Hadi.

Konflik di lingkup TNI antara kubu merah (berafiliasi ke paham komunis) dengan kubu hijau (berideologi Islam) juga mengakibatkan pertentangan di kalangan masyarakat. Anggota Yon 422 yang berpaham komunis berusaha menghabisi rivalnya baik dari internal sesama anggota Yon 422 maupun yang berideologi Islam, termasuk masyarakat yang memilki latar belakang partai politik Islam.

Harjo Suwiryo

Sosok berikutnya dikenal bernama Harjo. Namun, sosok ini menambahkan nama Suwiryo di belakang namanya, yang sengaja diambil dari nama tokoh gerakan dan pendiri Negara Islam Indonesia, Karto Suwiryo. H. Harjo Suwiryo menjadi sasaran penyerangan kelompok merah karena ia pengurus Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) sewaktu tinggal di Solo dan kemudian menjadi Ketua Masyumi selama menetap di Jatinom, Klaten. Harjo Suwiryo juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jatinom.

H. Muhammad Syakir mengungkapkan, ayahnya dijadikan sasaran penyerangan kelompok Yon 422 berideologi komunis. Beberapa saat lamanya, ayahnya dicari dan diburu mereka. Namun, karena gagal mendapatkan Harjo Suwiryo, mereka akhirnya membakar rumah Harjo Suwiryo yang dihuni istri dan anak-anaknya, termasuk Syakir. Pada saat itu Syakir masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Rakyat (SR). Uniknya, meskipun pelaku pembakaran dari Yon 422, namun Syakir beserta ibu dan adik-adiknya justru diselamatkan seorang anggota Yon 422 yang mereka kenal dengan baik.

“Rumah orang tua saya dibakar. Yang diincar ayah saya. Kejadiannya jam sepuluh malam. Pintu didobrak oleh Divisi 422 (maksudnya anggota Batalyon yang berafiliasi ke PKI – RTS) mencari ayah. Kebetulan ayah sedang dinas ke Semarang, Jawa Tengah. Rumah kami pun dibakar, disaksikan kakak, saya, adik-adik saya, dan ibu. Kami selamat karena ada anggota batalyon yang mengeluarkan kami dari dalam rumah. Mereka sempat menanyakan keberadaan Kapten Mulyono,” ujar Syakir yang kini menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya di komplek Masjid dekat Makam Ki Ageng Gribig.

Menurut Syakir, nama asli ayahnya adalah Harjo. Namun, karena ayahnya mengidolakan Karto Soewiryo, maka ayahnya memakai nama Suwiryo untuk melengkapi namanya. Karto Soewiryo saat itu dikenal sebagai tokoh pergerakan dan pendiri Negara Islam Indonesia yang memiliki pengaruh kuat di kalangan penggerak dakwah dan politik.

SAUDAGAR DAN PERAN DALAM GERAKAN DAKWAH DI JATINOM

Beberapa tokoh perintis Muhammadiyah Jatinom pada umumnya mengenal Muhammadiyah melalui kegiatan Hizbul Wathan (HW) di sekolah masing-masing. Artinya, organisasi dan nilai-nilai moral serta ajaran Islam dikenal kali pertama melalui pendidikan formal sedangkan keorganisasian Muhammadiyah di Kecamatan Jatinom belum sepenuhnya mereka ketahui. Nama HW dan bentuk kegiatannya hanya mereka ketahui dari sekolah tempat mereka menuntut ilmu. Eksistensi HW di Jatinom sudah akrab di kalangan senior persyarikatan Muhammadiyah Jatinom sejak 1951.

Sementara itu, geliat dinamika kehidupan masyarakat Jatinom tidak lepas dari aktivitas perekonomian yang digerakkan para saudagar. Ada Pasar Gabus yang setiap saat berdenyut dan dihidupkan masyarakat setempat melakukan transaksi. Lebih-lebih, pada hari pasaran Legi, suasana pasar lebih riuh dan lebih ramai lagi.

H. Ghozali

Salah seorang yang dikenal sebagai saudagar adalah H. Ghozali. Ghozali merupakan kakek dari keluarga istri H. Chusnul Hadi yang pandai berdagang. H. Ghozali – menurut istilah Chusnul – diberi anugerah mudah mencari dan mendapatkan rezeki. Ia berdagang wur atau klembak untuk bumbu racik tembakau untuk dibuat rokok. Kelak, bakat sebagai saudagar diturunkan kepada putri H. Ghozali yang kemudian disunting oleh Chusnul. Selain itu, putra H. Ghozali yang juga mewarisi bakat kesaudagaran orang tua mereka adalah Daromi alias Harjo Daromi dan Sutadi.

Wur yang dijajakan H. Ghozali disukai banyak orang. Warga setempat yang menjadi pelanggan sudah menunggu wur racikan H. Ghozali. Wur tersebut dibeli dengan harga grosir untuk dijual kembali. Kualitas wur H. Ghozali yang baik dan dijual dengan harga relatif murah, mengundang pelanggan semakin bertambah banyak.

Uang penghasilan dari penjualan wur pun dimanfaatkan untuk perjuangan. Mengingat, pada masa tersebut yang genting adalah menghadapi Peristiwa Madiun 1948. Dan, terutama yang lebih berbahaya adalah menyikapi kemungkinan dampak sertaan dari Peristiwa Madiun 1948. Sementara itu, keluarga H. Ghozali memang tergolong yang diincar dan menjadi sasaran operasi gerakan berbasis ideologi komunis itu. Tidak hanya keluarga H. Ghozali, umumnya keluarga yang kerabatnya aktif dalam kegiatan Hizbullah dijadikan sasaran atau target operasi gerakan komunis. Bahkan, tentara Pemerintah Hindia Belanda juga memusuhi keluarga H. Ghozali yang menyokong gerilyawan Hizbullah yang berjuang melawan tentara Belanda.

Rumah dirampok dan dibakar

Puncaknya, rumah dan seisinya milik Ghozali dirampok dan dibakar di era Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1948. Penyebabnya, hasil laba bisnis keluarga H. Ghozali dipergunakan untuk pembiayaan tentara gerilya di bawah bendera laskar Hizbullah. Pembakaran sepihak oleh Belanda tentu saja dimaksudkan untuk membuat jera serta mengakhiri gerakan perjuangan Ghozali dalam mendukung perjuangan laskar Hizbullah. Sebaliknya, niat dan tekad Ghozali dalam mendukung perjuangan laskar gerilya Indonesia justru semakin menguat.

Meskipun rumah dan harta sudah habis dibumi hangus Belanda, pada masa pemerintahan Republik Indonesia awal, peran H. Ghozali tidak surut dalam menyokong perjuangan rakyat. Bahkan, pada era kemerdekaan, rumah dan toko H. Ghozali dijadikan Posko Patroli tentara Divisi Siliwangi berasal dari Jawa Barat yang tengah berhijrah ke Jawa Tengah untuk menangkal dan meredam gejolak di wilayah Klaten yang menjadi basis gerakan PKI.

Sementara itu, dalam hal terkait awal kelahiran persyarikatan Muhammadiyah di Jatinom, menurut Chusnul Hadi dapat dirujuk dari kisah perjuangan dan cerita tentang Muhadi – pernah menjabat Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jatinom mendampingi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jatinom Sastro Jaeluddin, asli Kebumen – mereka berdua yang membawa ruh persyarikatan Muhammadiyah di Jatinom hingga mendapat penghargaan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Secara administratif, kepengurusan Muhammadiyah Jatinom era Sastro Jaeluddin dan Muhadi sudah bagus dan rapi. Namun, berkas atau arsip kepengurusan mereka tidak dapat ditemukan oleh pengurus persyarikatan penerusnya. Sepeninggal Muhadi, anak dan kerabatnya meninggalkan Jatinom menuju Weleri, Jawa Tengah. Keluarga Sastro jaeludin yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah juga memilih menetap di luar Jatinom.

Sumber: “Jejak Dakwah Saudagar Muhammadiyah dI Jatinom”